RSS Feed

Adat dan Firman Tuhan

Posted on

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang bisa dikatakan kaya dalam segala hal. Bisa kita lihat dari tanahnya yang luas, wilayah negara yang sangat strategis dimana diapit oleh dua benua dan dua samudra, tahan yang subur, sumber daya alam dan sumber daya manusia yang melimpah ruah yang terhampar dari Sabang sampai Merauke. Namun tidak hanya dalam hal tersebut saja, Indonesia juga dianugerahi oleh Tuhan Yang Maha Esa bermacam-macam kepercayaan (agama), ratusan atau bahkan ribuan adat istiadat, bahasa dan kebudayaan yang berbeda-beda dari satu wilayah dengan wilayah lainnya yang mungkin membuat banyak negara di dunia ingin memiliki apa yang dimiliki oleh bangsa kita ini. Terlepas dari hal tersebut, saat ini penulis akan memaparkan mengenai adat dan kebenaran firman Tuhan. Seperti kalimat yang penulis tulis di atas bahwa bangsa ini kaya akan suku bangsa, bahasa, agama dan lainnya yang menyebabkan banyak sekali ajaran-jaran yang dipercayai dan dilaksanakan oleh sebagian besar masyarakat di Indonesia. Namun saat ini penulis hanya akan memfokuskan pembahasan mengenai korelasi antara adat dan agama saja.

          Banyak sekali adat yang ada di Indonesia, mulai dari adat Batak, Jawa, Melayu, Sunda, Padang, Bugis, Betawi, Madura, dan masih banyak adat yang lainnya. Begitu pula agama yang diakui oleh pemerintah Indonesia yaitu Islam, Kristen Protestan, Katolik, Buddha, Hindu, dan yang terakhir adalah Khonghucu. Begitu banyak adat serta agama, namun berhubung penulis adalah orang Batak dan berkeyakinan Kristen Protestan maka saat ini penulis akan membahas mengenai hubungan antara adat Batak dengan kebenaran firman Tuhan dalam ajaran agama Kristen Protestan.

          Menurut pengertiannya, adat bisa diartikan sebagai kebudayaan yang terdiri dari nilai-nilai kebudayaan, norma, kebiasaan, kelembagaan, dan hukum adat yang lazim dilakukan di suatu daerah. Apabila adat ini tidak dilaksanakan akan terjadi kerancuan yang menimbulkan sanksi tak tertulis oleh masyarakat setempat terhadap pelaku yang dianggap menyimpang dari ketentuan adat tersebut. Dari pengertian tersebut dapat dikatakan bahwa sebelum masuknya ajaran agama ke suatu wilayah maka adatlah yang menjadi satu-satunya pedoman dalam berperilaku dan bersosialisasi antara individu-individu, individu-kelompok, kelompok-kelompok.  

          Sebelum adanya agama, masyarakat batak masih memuja dan menyembah dewa-dewa, patung, benda-benda yang dianggap memiliki kekuatan magis, dll. Masyarakat juga memegang teguh peraturan yang dibuat oleh kepala adat yang mereka anggap sebagai panutan dalam berperilaku. Namun seiring dengan berjalannya waktu, maka masuklah ajaran agama ke tanah air secara khusus ke Tanah Batak mulai dari agama Islam, Hindu, Buddha pada masa perdagangan dengan orang Arab, Cina, India, dll. Meskipun telah banyak ajaran agama yang masuk namun masyarakat batak masih tetap teguh memegang ajaran adat. Hingga pada saat agama Kristen Protestan yang dibawa oleh para misionaris (Pekabar Injil) dari negara-negara Eropa dan Amerika pada masa penjajahan Belanda, masyarakat Batak mulai mengenal mengenai ajaran agama Kristen. Sebenarnya misionaris yang memulai penginjilan pertama kali ke tanah Batak adalah Burton dan Ward dan setelah itu dilanjutkan oleh dua orang Amerika yang bernama Samuel Munson dan Henry Lyman yang mati martir (mati demi mempertahankan iman percayanya) di Sisangkak.

          Pekabaran injil di tanah Batak dilanjutkan oleh misionaris asal Jerman yang bernama Ludwig Ingwer Nommensen atau yang lebih sering dikenal dengan nama LI. Nommensen. Dengan semangat yang gigih dan janjinya pada Tuhan untuk memberitakan injil ke tempat-tempat orang yang belum mengenal kebenaran firman Tuhan, maka ia memutuskan untuk memberitakan kabar sukacita ke tanah batak yang notabennya belum mengenal Tuhan sama sekali dan masih menyembah berhala (Karena itu pergilah,jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus; Matius 28:19). Beliau mengajarkan kebenaran injil dengan penuh ketulusan hati dan penyerahan diri sepenuhnya kepada Tuhan. Alhasil berkat penyertaan dan kasih setia Tuhan, maka orang-orang Batak secara perlahan-lahan mulai bisa menerima ajaran firman Tuhan dan mulai melakukannya dalam kehidupannya sehari-hari, meskipun hal itu terjadi dengan proses yang tidak cepat dan tidak mudah karena pola pikir masyarakat yang masih memegang teguh adat dan percaya akan roh-roh nenek moyang.

            Seperti yang kita ketahui bahwa suatu masyarakat tidak mungkin meninggalkan adat istiadat yang telah lama melekat dalam kehidupan mereka sehari-hari dengan begitu mudahnya. Hingga saat ini bisa dikatakan masih banyak orang-orang batak yang masih memegang teguh ajaran adat yang mereka terima dari orang tua mereka secara turun-temurun meskipun mereka telah memiliki agama sebagai pedoman hidupnya. Tidak sedikit orang-orang batak yang masih menyampur adukkan kegiatan keagamaan dengan kegiatan adat. Seperti saat acara kelahiran, pernikahan, pemakaman, dll.

            Iman Kristen tetap menghargai adat, karena seperti yang kita ketahui bahwa Allah telah memberi mandat dan kemampuan bagi manusia untuk mengolah dan mengelola alam semesta beserta dengan sagala isinya. Seharusnya adat menjadi sebuah tantangan bagi jemaat Kristen khususnya yang masih memegang teguh tradisi untuk bisa membedakan mana yang menjadi kehendak Allah dan yang bukan.

            Adat dan keyakinan bukanlah dua kutub yang saling tolak-menolak melainkan harusnya menjadi satu kesatuan yang saling melengkapi. Karena tanpa agama, kebudayaan tidak memiliki arah yang jelas. Sedang tanpa kebudayaan agama tidak menemukan dasar pijaknya di bumi. Dari hal tersbut jelas bahwa agama dan adat itu sungguh-sungguh saling membutuhkan.

            Dengan menolak adat berarti kita sebagai orang Batak secara tidak langsung telah membunuh jati diri kita sendiri. Namun perlu diingat bahwa sebagai orang percaya kita tidak perlu membela adat mati-matian, jika memang terbukti bahwa ada di antara upacara-upacara adat Batak yang bertentangan dengan Alkitab dan kehendak Kristus. Sebagai landasan kita satu-satunya haruslah berdasarkan pada kebenaran Alkitab.

            Disini kita harus melihat sikap dari Tuhan Yesus tentang adat istiadat, diantaranya:

  • Tidak ada satu ayat pun dalam Alkitab yang melarang orang percaya mengikuti adat istiadat nenek moyang. Sebaliknya, kita temukan bahwa orang Yahudi, termasuk Yesus dan para rasul serta Paulus menghargai dan mempraktekkan adat istiadat nenek moyang mereka.
  • Adat istiadat, kebiasaan dan tradisi bisa dijadikan sebagai alat untuk lebih menghayati iman, kebenaran, kasih, serta penghormatan terhadap sesama manusia dan damai sejahtera dari Yesus haruslah tetap dipelihara dan dikembangkan dalam hidup orang Kristen.
  • Adat istiadat yang baik adalah adat yang tidak bertentangan dengan kehendak Allah.

            Kita tidak bisa menyalahkan kebiasaan yang telah tertanam kuat dalam kehidupan seseorang/kelompok tertentu. Karena pada dasarnya seharusnya kita mempergunakan adat istiadat secara bijaksana sebagai salah satu sarana untuk tetap memuji serta memuliakan nama Tuhan saja dan bukan untuk penyembahan kepada berhala seperti pada sedia kala saat belum mengenal akan kebenaran firman.

 

 

Sumber:

About RestyFrisda

simple person

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: